Meskipun menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, ternyata Indonesia masih kekurangan produksi mushaf Al Quran, terutama di daerah-daerah pelosok terpencil yang aksesnya sulit. Hal ini dirasakan oleh anak-anak Di Desa Sagu Kecamatan Adonara, Kabupaten flores Timur, NTT. Di pelosok Sagu setiap harinya anak-anak harus bergantian menggunakan iqra yang jumlahnya terbatas untuk bisa mengaji. Ustadz Jainul Malayang, selaku guru nganji sekaligus tokoh agama di sana menuturkan "Disini orang tua santri ga mampu beli Iqra dan Quran, makanya santri kalau ngaji suka minjem dulu ke yang lain dan bergantian, mayoritas orang tuanya pekerjaannya nelayan, dan masyarakat di sini mengeluh hasil laut susah karena ombak besar alam sedang tidak bersahabat."
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Surah Al-Baqarah ayat 261. Karena akses wilayahnya yang susah, menjadikan Al Quran di sana harganya pun terbilang cukup mahal, sebab terbebani biaya distribusi dari darat yang harus menyebrang laut untuk bisa sampai di wilayah mereka. Sebelum diantar menyebrangi lautan, warga terlebih dahulu harus pergi ke Waiwerang sebagai pusat kota untuk membeli Iqra. Perjalanannyapun terbilang sulit dan harus menempuh waktu lama. Selama perjalanan mereka tidak bisa menggunakan transpotasi pribadi karena medan jalannya yang terjal, mereka harus menyewa angkutan umum berupa pick up, dengan ongkos jalan Rp. 350.000 untuk sekali jalan.
Kesulitan mengakses pendidikan agama tidak cukup perihal keterbatasan iqra saja, melainkan juga soal nasib kesejahteraan para guru ngaji. “Menjadi guru ngaji di sini tidaklah mudah, karena para santri tidak ada biaya sama sekali, tidak ada gaji untuk guru ngaji, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, terpaksa guru ngaji di sini harus melaut pada malam hari dan pulang pagi hari. Sekarang guru-guru belum dibayar honornya, Sayapun kalau mengandalkan ngajar ngaji saja susah banget, makanya saya juga melaut" Ucap Ustadz Jainul Malayang. Dari keprihatinan inilah kami mengajak seluruh #OrangBaik untuk memberikan dukungan wakaf Al Quran, agar anak-anak di pelosok Sagu bisa mendapatkan akses mengaji yang mudah seperti anak-anak di kota. Semoga setiap wakaf Al Quran yang #OrangBaik berikan mampu mengalirkan setiap pahala jariyah Ketika dibaca.
Legalitas
Nama |
: |
Yayasan Bantu Beramal Bersama |
Izin KEMENKUMHAM |
: |
AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
Izin Kemenkeu (NPWP) |
: |
19.875.390.7-542.000 |
Izin NIB |
: |
2706240049522 |
Izin Domisili |
: |
140/IV/2023 |
Izin Dinsos |
: |
846/564 |