Di sebuah kampung terpencil di pedalaman Nusa Tenggara Timur, berdiri Kapela Santu Petrus, satu-satunya rumah ibadah yang menjadi tempat berkumpul dan berdoa bagi 85 kepala keluarga umat Kristiani. Namun kini, kondisi kapela tersebut sudah rusak parah. Bangunannya rapuh, dinding dan atapnya tidak lagi kokoh, bahkan angin kencang saja dapat membuat bagian bangunan ambruk. Meski demikian, umat tetap datang untuk beribadah karena mereka tidak memiliki tempat lain.

Keinginan warga untuk memiliki rumah ibadah yang aman dan layak sangat besar. Sayangnya, keterbatasan ekonomi membuat impian itu sulit terwujud. Sebagian besar warga hanya berpenghasilan sekitar Rp30.000 per hari, sehingga mereka hanya mampu bergotong royong mengumpulkan batu dan pasir sebagai awal pembangunan. Mereka tidak meminta bangunan yang megah, hanya sebuah kapela sederhana yang aman agar dapat berdoa tanpa dihantui rasa takut bangunan roboh.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari harapan mereka. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pembangunan kembali Kapela Santu Petrus agar menjadi tempat ibadah yang kokoh, aman, dan nyaman bagi seluruh jemaat. Mari bersama #KawanKebaikan hadirkan kasih melalui aksi nyata. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan menjadi harapan besar bagi 85 keluarga untuk kembali beribadah dengan tenang di rumah Tuhan yang layak.