Di usia senjanya, Mak Eti (60 tahun) masih harus berkeliling puluhan kilometer setiap hari menjajakan kipas seharga Rp5.000. Meski tubuhnya renta dan kerap merasakan pusing, ia tetap memaksakan diri berjalan sambil menahan sakit di kakinya. Malam itu, sambil menangis, Mak berkata lirih “Mak bingung mau pulang gimana, gak ada ongkos. Seharian belum makan, jualan belum ada yang laku.” Betapa berat perjuangannya hanya untuk bisa membawa uang pulang.

Kehidupan Mak Eti semakin berat karena ia tinggal bersama anaknya, Isep (35 tahun), yang terlahir disabilitas. Sejak lahir, kaki Isep sangat kecil dan tak bisa berdiri, hingga tak pernah sekalipun mengenyam pendidikan. Meski begitu, Isep selalu berusaha membantu ibunya membuat kipas yang dijual. Dulu, sang suami ikut membantu, namun karena hasil penjualan tak cukup, beliau terpaksa merantau sebagai buruh serabutan meski sudah tua dan sering sakit-sakitan.
Di balik kelelahan dan air mata, Mak Eti menyimpan harapan sederhana: memiliki usaha kecil di rumah agar tak perlu berkeliling lagi, dan kursi roda untuk Isep agar ia bisa keluar rumah menikmati dunia luar. #KawanKebaikan mari sisihkan rezeki terbaik kita agar harapan itu terwujud. Semoga setiap rupiah yang disisihkan untuk Mak Eti dan Isep menjadi tabungan pahala yang terus mengalir dan keberkahan dalam hidup kita semua.
Legalitas
Nama |
: |
Yayasan Bantu Beramal Bersama |
Izin KEMENKUMHAM |
: |
AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
Izin Kemenkeu (NPWP) |
: |
19.875.390.7-542.000 |
Izin NIB |
: |
2706240049522 |
Izin Domisili |
: |
140/IV/2023 |
Izin Dinsos |
: |
846/564 |