Di usia 84 tahun, saat banyak orang menikmati masa tua dengan tenang bersama keluarga, Abah Odo justru harus menembus hujan dan panas terik demi sesuap nasi. Setiap hari, ia berjalan kaki menyusuri jalanan kota, mendorong roda kecil berisi termos tua dan plastik kopi seduh. Dengan suara lirih, ia menawarkan, “Pak… Bu… kopi angetnya...” Kadang ditolak, seringkali diabaikan, namun ia tak pernah berhenti berjuang dan berharap. Karena jika ia menyerah dan berhenti berarti perutnya akan tetap kosong.

Abah Odo benar-benar hidup seorang diri. Sang istri telah tiada, dan ia tak dikaruniai anak. Hidupnya sebatang kara, tanpa ada yang menunggu di rumah. Dari berjualan kopi keliling, penghasilannya tak menentu, paling banyak Rp20.000 per hari yang harus cukup untuk makan, membeli kopi lagi, dan membayar kontrakan kecil tempatnya berteduh. Namun, beberapa bulan terakhir kontrakan itu tertunggak, dan kini Abah sudah diminta pindah jika tak mampu melunasi.
Bayangkan, di usia senjanya Abah harus memilih antara makan hari ini atau menyicil kontrakan? #KawanKebaikan mari kita ulurkan tangan untuk membantu Abah Odo. Semoga setiap rupiah yang kita sisihkan menjadi sebab kelapangan rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan yang Allah limpahkan kembali kepada kita. Aamin
Legalitas
Nama |
: |
Yayasan Bantu Beramal Bersama |
Izin KEMENKUMHAM |
: |
AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
Izin Kemenkeu (NPWP) |
: |
19.875.390.7-542.000 |
Izin NIB |
: |
2706240049522 |
Izin Domisili |
: |
140/IV/2023 |
Izin Dinsos |
: |
846/564 |