Di sebuah gubuk reot di Padalarang, tanpa listrik, atap bocor, dan dinding dari bilik bambu, plastik, serta spanduk bekas, Mak Imas dan suaminya, Abah Amir, bertahan hidup. Setiap pagi, Mak Imas memanggul opak dagangannya, berjalan kaki dari kampung ke kampung. Satu ikat opak dijual Rp4.000, dan bila habis terjual, penghasilan mereka sekitar Rp30.000. Namun jika hujan turun atau sepi pembeli, keluarga ini harus bertahan hanya dengan singkong rebus, bahkan terkadang sampai seminggu tak menyentuh nasi. Malam harinya, mereka memproduksi opak dengan penerangan lilin seadanya, ditemani tubuh renta Abah Amir yang tetap berusaha membantu di usianya yang sudah 73 tahun.

Saat ini, Mak Imas masih menanggung hutang Rp150.000 di warung dan tukang sayur untuk bisa makan sehari-hari. Lebih dari itu, mereka hidup di atas tanah orang yang sewaktu-waktu bisa diambil alih untuk perumahan, membuat mereka berada dalam ketidakpastian. Target donasi sebesar Rp20.000.000 akan digunakan untuk melunasi hutang, memenuhi kebutuhan pokok harian, modal usaha opak agar lebih stabil, serta memperbaiki tempat tinggal mereka agar lebih layak dan aman.
#KawanKebaikan mari kita hadirkan cahaya di tengah gelapnya kehidupan Mak Imas dan Abah Amir. Setiap kebaikan yang dititipkan akan menjadi pelita, membuka jalan agar mereka bisa menjalani usia senja dengan layak. Semoga Allah membalas kebaikan ini dengan rezeki berlimpah, keluarga yang terjaga, dan pahala yang tak terputus. Aamiin.
Legalitas
Nama |
: |
Yayasan Bantu Beramal Bersama |
Izin KEMENKUMHAM |
: |
AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
Izin Kemenkeu (NPWP) |
: |
19.875.390.7-542.000 |
Izin NIB |
: |
2706240049522 |
Izin Domisili |
: |
140/IV/2023 |
Izin Dinsos |
: |
846/564 |